Kuriositas Pemilih: Mindset Anti Hoak

Kuriositas Pemilih: Mindset Anti Hoak

Petugas Panitia Pemungutan Suara (PPS) membantu warga melakukan Pemungutan Suara Ulang (PSU) di TPS 34 kelurahan Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur, Sabtu (27/4/2019). Pemungutan suara ulang tersebut rata-rata dilakukan karena banyaknya pemilih yang menggunakan e-KTP tanpa memiliki A5 saat hari pencoblosan pada 17 April 2019. | AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

Di berbagai negara di dunia, efek propaganda “semburan kebohongan” (“firehose of falsehood” propaganda) telah terbukti merusak demokrasi dan pemilu –di Pemilu Serentak 2019 lalu bagaimana hoax dan berita palsu telah menjadi wabah politik bagi bangsa Indonesia. Apalagi propaganda tersebut diperkuat dengan penggunaan teknik komputasional yang menjadikannya hoax dan berita palsu terdiseminasi dengan volume sangat besar (huge volume) dan mutikanal (multichannel).

Mungkinkah praktek propaganda tersebut terulang kembali di Pemilihan Serentak 2020 nanti? Sebuah pertanyaan penting bagi siapapun yang menginginkan demokrasi elektoral lebih baik. Probabilitasnya siklus politik itu berulang kembali cukup besar, dimana hoax dan berita palsu berpotensi marak kembali. Ini harus menjadi alarm politik bagi kita semua untuk menyusun aksi prenventif, mengingat hoax dan berita palsu seperti virus ganas yang merusak nalar dan membakar emosi publik.  

Di 2019, tidak sekedar itu saja, para Machiavellian memainkan propaganda tersebut dengan tujuan menumbuhkembangkan ketidakpercayaan politik publik (public’s political distrust) terhadap proses penyelenggaraan pemilu –dan penyelenggara pemilu itu sendiri– serta menciptakan polarisasi politik yang sangat tajam yang mengarah pada disintegrasi dalam masyarakat Indonesia. Jadi propaganda tersebut sebenarnya tidak sekedar menjadi sebuah ancaman potensial yang nyata bagi demokrasi elektoral itu sendiri, tetapi juga bagi keutuhan bangsa dan negara di saat ini dan mendatang.

Prinsip hukum propaganda Joseph Goebbel telah menjadi prinsip operasional propaganda tersebut dimana kebohongan besar (big lie) yang terus diulang, nanti akan menjadi kebenaran. Atau yang menurut para psikolog, hal tersebut dikenal sebagai efek “ilusi kebenaran” (Wardle, 2017). Hoax dan berita palsu yang terus diulang akan diterima oleh publik sebagai kebenaran politik. Tentunya, ini sangat berbahaya untuk peradaban politik demokrasi.

Bahaya Otak Buaya dan Efek Mandela

Siapapun yang tidak memiliki kecerdasan informasi atau mengalami iliterasi informasi (information illiteracy) dapat menjadi korban efek propaganda tersebut, termasuk bisa jadi anggota keluarga kita. Oleh karena itu, literasi informasi bisa menjadi perisai (shield) untuk memproteksi anggota keluarga kita dari serangan hoax dan berita palsu yang dilancar melalui internet atau media sosial. Jadi, keluarga memiliki posisi strategis bagi proses edukasi literasi informasi.

Iliterasi informasi hanya mengaktivasi penggunaan otak buaya (croc brain) atau otak reptil dalam merespon informasi apapun. Dengan dominannya otak buaya tersebut, orang tuna informasi (the informational illiterate people) tidak dapat berpikir rasional, karena mereka digerakkan oleh rasa takut, situasi mengancam, atau persepsi atas bahaya. Sebaliknya, informasi yang tidak mengaktivasi rasa cemas, dianggap sebagai sampah (spam) yang harus diabaikan (Klaff, 2011:11-12). Hoax dan berita palsu hanya menciptakan pengguna internet paranoid.

Penggunaan otak buaya yang dominan membuat mereka mendisfungsi otak limbik yang salah satu fungsinya adalah sebagai pengendali emosi. Otak ini memicu kemarahan dan berpotensi dapat membentuk angry society (masyarakat marah). Selain itu, otak buaya juga mendisfungsi otak neokorteks yang salah satu fungsinya adalah untuk berpikir. Otak buaya mematikan potensi IQ (intelligence quotient)dan EQ (emotional intelligence)seseorang. Itu lah kenapa hoax dan berita palsu dapat merusak potensi kognitif manusia yang sangat besar.

Hoax dan berita palsu biasanya ditampilkan dalam bentuk clickbait –judul yang hiperbola, bombastis, atau sensasional– yang membuat pembacanya untuk melakukan click-through –tertarik membaca konten informasi atau berita tersebut. Mereka tidak sekedar terjebak dalam clickbait dan clik-trough, tetapi mereka menyebarluaskan kembali (redisseminating) secara massif. Pada akhirnya mereka terjebak devil circle (lingkaran setan) diseminasi hoax dan berita palsu.

Clickbait terjadi pada saat pengguna internet mengalami curiosity gap (kesenjangan rasa ingin tahu) (Waldman, 2014), karena mereka telah kehilangan daya kritis dan mudah terjebak pada emosionalitas informasi berbasiskan-sensasionalitas. Oleh karena itu, sependapat dengan gagasan Emily Shire (2014) tentang pentingnya gerakan anti-umpan klik (the anti-clickbait movement) untuk menyelamatkan kita semua untuk terbebas dari hoax dan berita palsu.

Pada akhirnya, otak buaya membuat pengguna internet menjadi orang sangat yang rentan (the most vulnerable people) mudah terdampak Mandela effect –orang dengan mudah sekali mempercayai suatu informasi tanpa verifikasi.  Efek mandela adalah bentuk kesalahpahaman kolektif (collective misremembering) atas suatu peristiwa umum.  

Pada tahun 2010, Fiona Broome menciptakan istilah efek Mandela ketika banyak orang di internet salah mengenang wafatnya Nelson Mandela. Mereka percaya bahwa Mandela wafat di penjara pada tahun 1980-an, padahal faktanya, Mandela baru bebas dari penjara tahun 1990-an dan meninggal pada tahun 2013. Disinformasi di internet telah menciptakan kesalahpahaman kolektif. Fakta sosial mudah percaya pada disinformasi adalah salah satu bentuk paradoks internet, yang seharusnya berinternet itu berarti memiliki akses pencarian informasi tanpa batas.

Mengembangkan Kuriositas Pemilih

Di Pemilihan Serentak 2020, efek Mandela dapat menjadi ancaman aktual bagi terbentuknya populasi pemilih yang terinformasikan dengan baik (well-informed voters). Artinya efek ini memiliki daya rusak terhadap demokrasi elektoral. Untuk melindungi pemilih dari efek tersebut, gerakan cerdas berinternet dibutuhkan dan dimaksudkan untuk mentransformasi mindset yang rentan terpapar menjadi mindset anti-hoax dan berita palsu.

Gerakan tersebut mengkampanyekan tentang pentingnya literasi informasi kepada pemilih  dengan tujuan agar mereka memiliki kuriositas yang tinggi atas setiap pesan atau informasi politik yang kebenarannya diragukan atau bersifat manipulatif. Kuriositas tersebut ditandai dengan kemampuan crosscheck (memeriksa kembali) untuk menemukan fakta dan kebenaran (finding the fact and truth). Kini di era Big Data, mesin pencari (searching engines) seperti Google, Bing, Yahoo, Baidu dan lain sebagainya sangat fungsional dalam membantu pengguna internet dalam crosschecking agar mendapatkan sumber informasi yang terpercaya dan akurat.

Kuriositas merupakan mekanisme penting bagi pemilih dalam mendaulatkan pilihan politiknya (empowering their vote). Kuriositas bisa terbentuk dengan baik ketika pemilih dapat memahami eksistensi politiknya dimana mereka adalah pemilik kedaulatan rakyat dalam demokrasi dan melalui pemberian suara, mereka dapat menentukan masa depan pemerintahan daerah untuk periode selanjutnya. Kesadaran kewarganegaraan (civic consciousness) ini lah yang harus dikembangkan dan menjadi fondasi bagi pembentukan individu pemilih dengan rasionalitas yang baik.

Gerakan sosialisasi dan pendidikan elektoral dalam Pemilihan Serentak 2020 harus didesain secara efektif dan efisien agar para pemilih memiliki atau dapat mengembangkan kuriositas pemilih agar (lebih) cerdas dan bijak dalam berpartisipasi elektoral –berpartisispasi di semua tahapan penyelenggaran pemilihan. (Penulis IDHAM HOLIK Anggota KPU Provinsi Jawa Barat/akurat.co)

Komentar

comments