KPU Kuningan Kunjungi Ponpes Al-Ikhlas

KPU Kuningan Kunjungi Ponpes Al-Ikhlas

Kuningan, 1 Maret 2019. Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kuningan telah mengunjungi Pondok Pesantren Al-Ikhlas Ciawigebang. Kegiatan sosialisasi dan pendidikan pemilih tersebut dihadiri oleh Komisioner Divisi SDM dan Parmas Dudung Abdu Salam, Divisi Data dan Informasi Asep Budi Hartono, dan Komisioner KPU Kabupaten Kuningan Periode 2013-2018 Heni Susilawati dan Dadan Hamdani sebagai narasumber. Selain itu turut serta Kasubbag Teknis dan Hupmas Jajang Jamaludin dan Kasubbag Program dan Data Dudung Abdul Rokhman.

Kegiatan yang bertempat di masjid pondok tersebut dibuka oleh Dudung Abdu Salam. Dalam sambutannya, Dudung menyampaikan bahwa pemilih pemula merupakan pemilih yang cukup potensial dalam menentukan pemimpin di masa depan. Maka, sedini mungkin pengetahuan tentang kepemiluan dan demokrasi harus senantiasa dipelajari. Itu semua akan menjadi modal dasar untuk dapat menjadi pemilih yang cerdas.

Masuk sesi pertama, Heni menjelaskan mengenai apa itu pemilu. Dirinya menyampaikan bahwa pemilu merupakan sarana kedaulatan rakyat untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat, anggota Dewan perwakilan Daerah, Presiden dan Wakil presiden, dan untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, yang dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Pada sesi kedua, Dadan menyampaikan kategori pemilih yang terbagi menjadi 3 yakni DPT, DPTb, dan DPK. Pemilih kategori DPTb  itu data Pemilih yang telah terdaftar dalam DPT di suatu TPS yang karena keadaan tertentu Pemilih tidak dapat menggunakan haknya untuk memilih di TPS tempat yang bersangkutan terdaftar dan memberikan suara di TPS lain.

“Dengan kegiatan seperti ini, kami dan para santri bisa menimba ilmu kepemiluan langsung dari ahlinya. Kegiatan seperti ini sangat bagus juga untuk lebih menjelaskan mengenai data pemilih. maksdunya bagaimana pemilih yang tidak dapat menggunakan hak pilihnya di tempat asal dan bagaimana surat suara yang akan diterimanya kelak.” tutur Afandi, pendiri dan pimpinan pondok.***

Komentar

comments