Pada tanggal 03 Desember 2020 Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kuningan menyelenggarakan kegiatan pendidikan pemilih dalam rangkaian agenda KPU Goes To Campus dalam bentuk seminar secara tatap muka dengan tetap menggunakan protokol kesehatan seperti jaga jarak dan menggunakan masker dalam rangka pencegahan penyebaran corona virus desease-19 yang sasarannya adalah kalangan milenial di aula kampus STIKes Muhammadiyah Kuningan (lantai 3) yang beralamat di Jl. Raya Pangeran Adipati No. D4 RT 09 RW 03 Kelurahan Cipari Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan. Kegiatan ini bekerjasama dengan STIKes Muhammadiyah Kuningan yang merupakan tindaklanjut dari MoU antara KPU Kabupaten Kuningan dengan STIKes Muhammadiyah Kuningan beberapa waktu lalu.

            Kegiatan ini dibuka oleh Dudung Abdu Salam selaku anggota KPU kabupaten Kuningan (Divisi SDM, Sosialisasi dan Partisipasi Pemilih) menggantikan Ketua KPU kabupaten Kuningan karena di waktu yang bersamaan harus menghadiri undangan dari Komisi Informasi Provinsi Jawa Barat di Gedung Sate Bandung untuk menerima penghargaan sebagai badan publik informatif tahun 2020 kategori instansi vertikal tingkat kabupaten/kota. Dalam kesempatan yang sama juga dihadiri oleh Ketua STIKes Muhammadiyah Kuningan yang diwakili oleh Wakil 1 Imas Maesaroh, M.Farm., Apt.

            Selaku nara sumber yakni Asep Budi Hartono dari anggota KPU Kuningan (Divisi Perencanaan, Program, Data dan Informasi), Lestari Widyastuti dari anggota KPU Kuningan (Divisi Hukum dan Pengawasan) dan Nourma Nurjanah, SKM (Kepala BPKM dan alumni STIKMK) serta sebagai moderator yaitu Nova Oktavia, S.KM., M.PH (Kepala Humas dan Kerjasama STIKMK).

            Asep dan Nourma menyampaikan bahwa terdapat beberapa peran mahasiswa dalam dunia demokrasi yaitu : 1) Sebagai iron stock, bahwa dengan sifat sekuat besi yang kokoh dan kuat, diharapkan pemuda dapat membawa bangsa ini menjadi bangsa yang mandiri, tidak mudah goyah dengan setiap persoalan yang terjadi, berprinsip dan tentunya menuju ke arah perubahan yang lebih baik, 2) Sebagai agent of change atau agen perubahan, bahwa pemuda merupakan salah satu symbol akan adanya perubahan atau revolusi bangsa, 3) Sebagai social control atau kontrol sosial, bahwa seyogyanya pemuda memang harus berperan sebagai pengontrol masyarakat dan pemerintahan dan 4) Sebagai moral force, bahwa pemuda diharapkan memiliki akhlak terpuji dan moral yang baik agar bisa merubah bangsa ke arah yang lebih baik.

            Adapun Lestari menyampaikan tema yang berkaitan yakni tentang Peran Mahasiswa Dalam Pengawasan Pilkada di Masa Pandemi Covid-19. Dalam penyampaiannya dikatakan bahwa Kuningan saat ini tidak sedang dalam melaksanakan tahapan pemilihan Kepala Daerah, namun tidak ada salahnya mengupas tentang Pemilihan Kepala Daerah di Era Pandemi sebagai bentuk electoral learning. Perlu diketahui bahwa di Indonesia terdapat daerah yang saat ini sedang melaksanakan pemilihan Kepala Daerah serentak tahun 2020 terdapat di 270 daerah yakni di 9 provinsi, 224 kabupaten dan 37 kota. Di Jawa Barat sendiri terdapat 8 kabupaten/kota yang sedang menyelenggarakan pemilihan Kepala Daerah di tahun 2020  yaitu kabupaten Bandung, Kab. Cianjur, Kab. Sukabumi, Kab. Karawang, Kab. Indramayu, Kab. Tasikmalaya, Kab. Pangandaran dan Kota Depok, tutur Lestari.

            Penyelenggaraan Pilkada di era pandemi ini merupakan tantangan bagi penyelenggara pemilihan. Beberapa tantangan yang akan dihadapi dalam penyelenggaraan Pilkada antara lain: 1) Ancaman kesehatan di masyarakat akan terkenanya dampak penyebaran wabah covid-19 baik itu pemilih, peserta, panitia maupun setiap yang turut andil dalam penyelenggaraan pemilihan. Hal ini akan berpengaruh pada jumlah partisipasi pemilih yang kemungkinan terjadi penurunan. 2) Potensi kecurangan dan money politic akan berkembang di berbagai kalangan masyarakat, karena terdampaknya faktor ekonomi di setiap kalangan masyarakat. Ini tentu menjadi senjata bagi para calon yang ikut serta dalam persaingan Pilkada serentak 2020 untuk mendapatkan suara masyarakat dengan cara money politic. 3) Anggaran pembiayaan untuk Pilkada mengikuti protokol kesehatan tentu banyak yang harus dipersiapkan mulai dari alat untuk melindungi diri seperti wastafel (alat cuci tangan), masker, handsanitizer dan lain-lain bahkan termasuk penyemprotan cairan desinfektan di TPS. Semua ini tentunya akan memakan anggaran yang tidak sedikit.

            Peran atau upaya mahasiswa/i sebagai kaum milenial dalam hal ini harus mensosialisasikan kepada masyarakat untuk membangun demokrasi di tengah pandemi covid-19 dengan menjamin kesehatan dan keselamatan semua pihak. Selain itu juga peran mahasiswa/i yaitu mengawasi pelaksanaan Pilkada. Berkenaan dengan hal tersebut mahasiswa/i bisa saja terlibat menjadi penyelenggara pemilihan baik itu di KPU maupun Bawaslu (sebagai badan adhock misalnya) dalam pengawasan berjalannya pesta demokrasi ini sesuai aturan yang ditetapkan dalam Pilkada serentak tahun 2020. Selain itu juga peran mahasiswa/i diperlukan dalam memastikan tidak tumbuh suburnya money politic pada masa pandemi ini. Begitu disampaikan Lestari.

            Kegiatan ini diikuti oleh peserta kurang lebih 40 orang mahasiswa/i yang duduk di bangku kuliah STIKes Muhammadiyah Kuningan. Para mahasiswa/i sangat antusias dalam mengikuti seminar ini. Terdapat 5 (lima) peserta yang mengajukan pertanyaan seputar peran mahasiswa dalam demokrasi di era pandemi yang ditujukan kepada para nara sumber. Kelima peserta tersebut adalah Oban Norbani, Susi, Zurma, Neni dan Anto. (Tim Media Center KPU Kuningan).

Komentar

comments