KPU Kuningan Ajak Mahasiswa UNISA Tidak Golput

KPU Kuningan Ajak Mahasiswa UNISA Tidak Golput

Kuningan, Minggu 10 Desember 2017. Ketua KPU Kabupaten Kuningan Heni Susilawati telah menghadiri kegiatan Seminar Pemilu Raya yang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat STAI Al-Ihya Kuningan di Aula Kampus 1 Universitas Islam Al-Ihya Kuningan. Kegiatan tersebut dihadiri oleh 50 orang mahasiswa dari pelbagai perguruan tinggi dan pelajar yang ada di Kabupaten Kuningan.

Selain itu, turut pula hadir Kasat Intelkam Polres Kuningan AKP Iwan Rasiwan, S.H., M.H., Bhabinkamtibmas Kel Cigugur, AIPTU H. Zainal, Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Cigugur, dan seluruh anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat STAI Al-Ihya Cabang Kuningan. Kegiatan secara resmi dibuka oleh Kabag Kemahasiswaan UNISA Kuningan, Asep Nugraha, S.Pd.I.

Sebelum menyajikan materi, peserta terlebih dahulu dikenalkan dengan permainan Kahoot. Kahoot ini merupakan sebuah permainan berbasis internet yang di dalamnya terdapat kuis dengan pilihan jawaban. Untuk pertanyaannya sendiri, dapat dibuat sesuai dengan kebutuhan. Pengenalan Kahoot dalam kegiatan tersebut bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan peserta tentang kepemiluan.

Bertindak sebagai narasumber pertama, Heni Susilawati menyajikan Pendidikan Politik Pemilih Pemula. Dihadapan seluruh peserta seminar, Heni menjelaskan tentang pentingnya partisipasi civitas akademika dalam pemilihan.

Mengawali paparan materinya, Heni menyampaikan bahwa Pilkada Serentak Tahun 2018 akan diselenggarakan di 171 daerah otonom, 17 Provinsi, 115 Kabupaten, dan 39 Kota di Indonesia.

“Terdapat 2 tahapan pemilihan, yakni tahapan persiapan dan tahapan pemilihan. Tahapan persiapan terdiri dari Perencanaan program dan anggaran; Penyusunan dan penandatangan Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NPHD); Penyusunan dan pengesahan peraturan penyelenggaraan Pemilihan; Sosialisasi kepada masyarakat dan penyuluhan/ bimbingan teknis kepada KPU Provinsi/ KIP Aceh, KPU Kabupaten/ Kota, PPK, PPS, dan KPPS; Pembentukan PPK, PPS, dan KPPS; Pendaftaran pemantau Pemilihan; Pengolahan Daftar Penduduk Potensial Pemilih Pemilihan (DP4); dan Pemutakhiran data dan daftar pemilih.” tutur Heni kepada peserta seminar.

Kemudian Heni menjelaskan bahwa tahapan berikutnya, yakni tahapan pemilihan terdiri dari Pencalonan; Sengketa Tata Usaha Negara Pemilihan; Masa Kampanye; Laporan dan audit dana kampanye Pengadaan dan pendistribusian perlengkapan pemungutan dan penghitungan suara; Pemungutan dan penghitungan suara; Rekapitulasi hasil penghitungan suara; Penetapan pasangan calon terpilih tanpa permohonan Perselisihan Hasil Penilihan (PHP); Sengketa Perselisihan Hasil Pemilihan (PHP); Penetapan Pasangan Calon terpilih pasca putusan Mahkamah Konstitusi; Pengusulan pengesahan pengangkatan Pasangan Calon; Evaluasi dan pelaporan tahapan.

“Jika kaum intelektual yang notabene masih memegang teguh idealismenya sudah apatis terhadap pemilihan, maka akan lahir pemimpin yang . Kaum intelektual seyogyanya dapat menjadi percontohan sikap peduli terhadap pesta demokrasi bagi masyarakat luas.” tutur Heni.

Heni kemudian menjelaskan civitas akademika diharapkan pula menjadi kelompok terdepan yang menolak keras money politics. Di setiap kegiatan yang dilakukan oleh pelajar dan mahasiswa seyogyanya mampu berperan aktif dalam mencerdaskan dan menyadarkan masyarakat bahwa money politics itu sama sekali tidak ada manfaatnya dalam kehidupan yang akan datang. Selain itu, diharapkan pula civitas akademika turut aktif mengawasi proses pemilu.

“Mengenali visi, misi, dan tujuan pasangan calon adalah salah satu cara konkret dalam mengenali Paslon yang pantas untuk memimpin Kabupaten Kuningan. Pelajari juga track recordnya. Catat janjinya. Kemudian pelajari juga program-program yang tawarkannya untuk Kuningan.” tutur Heni.

Pasca Heni, AKP Iwan Rasiwan menjadi narasumber kedua. Iwan menyampaikan tentang Undang-Undang ITE dan bentuk-bentuk pelanggan teknologi informasi.

“Mahasiswa dan Pelajar diharapkan menjadi kelompok pertama yang mampu memilah mana berita yang asli dan mana berita yang hoax. Jangan tergesa-gesa menyambung-lidahkan informasi jika berita yang diterima masih diragukan.” tutur Iwan.

Kemudian Iwan menjelaskan, civitas akademika diharapkan pula menjadi solusi saat terjadi isu-isu sara dalam proses pemilu. Civitas akademika dengan kemampuan intelektualitasnya diharapkan mampu menularkan kecerdasannya kepada masyarakat agar tidak mudah terjebak hoax.

Kegiatan di akhiri dengan post test kepemiliuan. Melalui permainan Kahoot lagi, peserta dievaluasi sejauh mana materi yang telah disampaikan dapat dipahami. Alhasil munculkan tiga peringkat tertinggi dari seluruh peserta dan berhak mendapatkan reward yang telah disiapkan oleh rekan-rekan panita.***

Komentar

comments